BANDUNG – Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, tiba-tiba berubah menjadi lautan massa pada Jumat pagi. Ribuan warga yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertambangan rakyat di berbagai wilayah Jawa Barat yang meliputi Kantor Gubernur, menuntut solusi konkret atas penutupan lahan tambang yang menjadi urat nadi perekonomian mereka.
Sambil membentangkan spanduk bernada protes, para pengunjuk rasa mencerminkan kegelisahan mereka pasca-kebijakan penutupan tambang yang dinilai sepihak. Mereka mengklaim, sejak alat berat berhenti beroperasi dan garis polisi dipasang, ribuan kepala keluarga kehilangan penghasilan dan terancam terjerat hutang.
“Kami Butuh Makan, Bukan Sekadar Aturan”
Koordinator aksi dalam orasinya menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk melawan hukum, melainkan meminta kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil.
“Kami tahu aturan itu penting, tapi perut anak istri kami tidak bisa menunggu proses birokrasi yang berbelit”
Ekonomi Lumpuh, Dapur Tak Ngebul
Sejak aktivitas dihentikan, rantai ekonomi masyarakat terputus total. Mulai dari pekerja tambang, sopir truk, hingga pedagang warung nasi kecil-kecilan yang kehilangan sumber pendapatan utama mereka.
Masyarakat menegaskan tidak akan meninggalkan Gedung Sate sebelum mendapatkan pernyataan langsung atau komitmen tertulis dari Gubernur yang akrab disapa KDM oleh warga Jawa Barat tersebut.
Redaksi Oleh Jurnal Investigasi Mabes Kaperwil Jawa Barat

